Arsip untuk ‘Cerita sosial’ Kategori

DHUUUT!

17 April 2012

DHUUUT!
Cerita Pendek Iman Handiman

Pagi yang cerah, hati Achmad Richard Sartana bernyanyi riang. Hari Sabtu, tidak ada agenda kantor, tapi pukul 6 lelaki ini sudah meninggalkan kamar tidur di lantai dua rumahnya dengan pakaian rapi, wangi, dan wajah kelimis. Kakinya yang pendek berlari-lari kecil menuruni tangga yang melingkar ke titik tengah antara dapur dan ruang keluarga. Kemudian menclok di meja makan yang terletak memanjang di belakang sofa besar tempat para penghuni rumah biasa duduk bersama menonton televisi.
Sambil bersiul-siul, Richard memandang makanan dan minuman yang terhidang di atas meja. Ada telor bebek dadar dengan taburan irisan bawang daun dan kulit tomat, menu sarapan favoritnya. Ada omelet dan spageti sebagai menu tambahan. Tak ketinggalan setangkup roti yang sudah dipanggang dengan sisipan salad dan beef yang menggelumbung hingga saosnya meleleh keluar. Lalu juga satu gelas jus jambu merah.
Semua ini Bi Mumun yang menyiapkan. Bi Mumun adalah pembantu setia yang sudah ikut pasangan Richard-Ranie saat setahun pernikahan mereka, persisnya sejak anak pertama mereka lahir 12 tahun lalu. Bi Mumun yang menangani semua pekerjaan rumah tangga dari membersihkan rumah, mencuci pakaian, hingga memasak. Cuma menghidangkan sarapan untuk tuan Richard yang tidak pernah dilakukannya. Itu porsi spesial nyonya besar yang tidak boleh diganggu. Tapi pagi ini Bi Mumun harus mengerjakan semua.
Pagi ini memang lain, pagi hari ini, besok, dan lusa ada pengecualian. Nyonya Richard tidak ada di rumah. Dapur dan ruang keluarga mendadak seperti lengang. Biasanya Richard tiba di meja makan disambut Ranie yang sudah lebih dulu turun ke dapur dan sibuk menghidangkan sarapan. Setelah itu akan disusul tiga anaknya bergabung di meja makan. Kali ini istri dan tiga anaknya tidak hadir melakukan sarapan bersama yang sudah menjadi ritual pagi keluarga.
Tidak ada Ranie yang akan mengajak ngobrol dan menuangkan nasi ke piring Richard. Tidak ada celoteh Messy anak bungsunya yang ribut kalau tanpa sengaja mengunyah cabai atau menyuap sayur yang masih panas. Tidak ada Andri dan Edo kedua kakak Messy yang suka timpal-timpalan kalau membicarakan basket di meja makan. Yang ada hanya Bi Mumun yang kini masih sibuk meletakkan bunga mawar di samping kiri majikan lelakinya, hal yang biasa dilakukan Ranie kalau Richard sudah duduk di kursi meja makan. Tetapi tidak seperti kalau Ranie yang melakukannya, Richard tidak mengacuhkan mawar itu. Ia juga tidak buru-buru meraih sendok dan menyentuh makanan. Ia malah meneguk habis jus jambu merah hingga mengeluarkan bunyi slorooot karena disedot sampai dasar gelas. Kalau sudah begitu berarti selesailah sesi sarapan tuan Richard. Perjamuan pagi yang singkat.
Richard kini sudah beranjak dari meja makan. Melirik Bi Mumun yang mengangguk bingung karena semua makanan yang sudah susah payah disiapkannya tidak disantap, lalu berjalan melewati ruang keluarga dan ruang tamu yang seolah kosong. Kemarin sore Richard mengantar istri dan tiga anaknya ke bandara. Mereka terbang ke Korea Selatan menikmati kado ulang tahun Richard untuk istrinya. Richard sendiri tidak ikut dengan alasan ada agenda penting untuk menggolkan proyek jembatan musi 5. Ia harus bertemu walikota sebelum proyek itu benar-benar aman di tangannya.
“Pergilah bersenang-senang Ma. Maafkan aku tidak bisa menemani,” kata Richard kepada Ranie saat melepas istri dan ketiga anaknya di ruang check in pesawat.

Ranie cemberut karena harus berjauhan dengan suami justru pada momen penting ulang tahunnya. Ia ingin menolak kado ke Korsel dan menggantinya dengan acara lain yang bisa dilakukannya dengan suami. Tapi tiga anaknya telanjur minta izin tidak sekolah hari Senin lusa, mereka juga sudah merancang akan menghabiskan waktu di Lotte World, menyaksikan aksi Super Junior di Seoul, mengunjungi Pulau Nami dan Gunung Sorak tempat syuting drama Korea Winter Sonata dan Endeles Love. Mereka menjadwalkan tiga hari di negeri ginseng itu. Tiket sudah dibeli sekaligus untuk pulang Senin sore.
Pagi ini Richard siap meninggalkan rumah. Di halaman sedan BMW putihnya sudah terparkir menghadap jalan. Dinan, sopir keluarga, sudah berdiri di samping mobil dan segera membukakan pintu belakang, mempersilakan bosnya masuk. Tapi Richard masuk sendiri dari pintu kanan depan.
“Kamu libur aja hari ini, biar aku bawa sendiri,” kata Richard sambil meminta kunci mobil.
Dinan langsung menyerahkan kunci. Ia senang saja karena berarti hari ini dia bisa pulang dan melakukan apa saja dengan istri dan anaknya di rumah. Ia tak merasa perlu untuk bertanya alasan tuannya tidak menggunakannya sebagai sopir hari ini.
Richard lalu melajukan mobil. Saat sudah keluar dari pagar rumah, dia mengangkat HP. “Hai honey, sudah siap sarapan bersama di surga sana?” katanya menyapa seseorang di ujung telepon.
“Ya aku udah nggak sabar menunggu kamu,” suara wanita membalas dengan tawa genit.
Injakan Richard pada pedal gas lebih dalam lagi. Mobil meluncur cepat. Bukan menuju kantor walikota ataupun rumah dinas walikota, melainkan ke luar kota. Rupanya tidak ada agenda pertemuan bisnis menggolkan proyek musi 5. Yang ada adalah bisnis asmara gelap.
Sejurus BMW seri terbaru itu sudah melesat di atas aspal mulus jalan provinsi. Masih sepi karena belum lagi siang, kendaraan yang melintas di jalur itu hanya satu-dua. Richard pun leluasa memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Duapuluh kilometer sudah dia meninggalkan Palembang. Sampai kemudian dia merasa mobilnya seperti oleng. Ada yang tidak beres rupanya di bagian belakang. Richard menghentikan mobil dan segera keluar memeriksa roda. Ternyata ban belakang gembos. Ada paku besar menusuk silang dari tengah ke sisi permukaan ban.
Richard tersentak. Ia tidak siap menghadapi kondisi ini. Sekonyong-konyong saja dia menyesal telah membawa sendiri mobil dan tidak membiarkan Dinan menyopirinya seperti biasa. Tadinya dia memilih sendiri dengan maksud supaya leluasa bertemu Lia dan bermesraan seharian di Telukgelam.
Richard lupa bagaimana membuka ban yang gembos karena sudah sangat lama tidak pernah lagi melakukan hal itu. Ia juga tidak hafal bagaimana menurunkan ban cadangan yang tersimpan di bagasi mobil. Pakaian yang dikenakannya juga tidak siap untuk melakukan kerja kasar mengganti ban. Duh seharusnya si Dinan ada di sini dan mengerjakan semua ini, pikirnya.
Sempat terpikir untuk menelepon Dinan, menyuruhnya datang. Tetapi langsung diurungkannya. Itu sama saja dengan menyingkap aib. Dinan pasti bertanya kenapa ada di sini dan bukannya bertemu walikota. Ujung-ujungnya Ranie tahu dan ini artinya kiamat kecil.
Akhirnya Richard memutuskan untuk mengganti ban sendiri. Ia membuka kap bagasi, mencari boks kunci-kunci dan dongkrak. Ketemu, lalu menurunkannya. Ia pun mulai membuka baut-baut roda, melonggarkannya sebelum kemudian mengangkat sasis dengan dongkrak.
Tangan Richard belepotan tanah dan oli yang meleper dari balik velg. Ujung lengan bajunya juga menghitam oleh cipratan oli. Ototnya menegang saat memutar naik roda. Keringat bercucuran di muka dan punggungnya. Berat ternyata mengganti ban. Biasanya dia tak pernah tahu urusan macam ini.
Ban yang gembos sudah dilepas, kini Richard harus menurunkan ban cadangan dari bagasi. Ups, dia menarik ban itu dari kaitannya dengan sekuat tenaga. Nyaris tubuhnya terjengkang karena ternyata ban itu tidak seberat yang dikiranya. Ban itu ringan seperti melayang. Richard memeriksa dengan menginjaknya. Ya ampun ban cadangan itu juga gembos. Mungkin terlalu lama tidak dipakai sehingga anginnya habis terbuang.

Richard mengutuk Dinan karena tidak mengecek ban cadangan. Tapi dia pun sadar sedan BMW ini jarang digunakan. Sehari-hari Dinan diperintah menggunakan BMW jeep untuk alasan praktis karena mobil itu bisa menyimpan banyak barang-barang yang diperlukan untuk pekerjaannya di kantor. BMW hanya digunakan bilamana ada urusan di luar kantor. Kesalahan utama Richard adalah dia menyetir sendiri mobil.

Richard termangu dengan tubuh bermandi keringat. Sekonyong-konyong HPnya berdering. Lia memanggil. “Hey kenapa belum sampai juga, sarapan yang aku siapkan udah dingin nih,” suara itu terdengar oleh Richard seperti menekan dadanya.
“Ban gembos. Cadangannya juga gembos,” dia menjawab lesu.
“Tinggalkan aja mobilnya sayang. Pakai taksi,” kata Lia tak sabar.
“Ini di luar kota, nggak ada taksi.”
“Naik apa aja. Bis kan ada.”
“Ya ya ya.”
Richard menyimpan lagi ban cadangan ke bagasi. Roda ban belakang yang sudah terangkat dibiarkannya. Ia pikir itu akan mengamankan mobil dari kemungkinan dicuri orang. Setelah semua pintu dikunci, dia lari ke jalan. Sebuah bis meluncur dari arah Palembang, menuju Kayuagung. Ia cegat.
Richard langsung naik ketika bis itu membuka pintu. Ia tak tahu di dalam penumpang sangat penuh sampai beberapa orang berdiri. Apa boleh buat dia pun terpaksa berdiri di antara ketiak dan peluh serta pikulan dan berbagai barang milik penumpang lain.
Mobil bergerak, sentakan gasnya begitu keras. Semua penumpang yang berdiri bergoyang. Richard pun hampir terpelanting. Perutnya seketika bagai dikocok. Mual dan mulas. Sesiang ini dia belum sarapan. Perutnya baru diisi segelas jus jambu merah. Dan manisnya jus sekarang seperti memutar-mutar usus dan menarik angin masuk ke dalamnya.
Mobil melaju dengan sentakan gas yang masih juga kasar. Penumpang bergoyang dan sebagian berbenturan ketika bis meliuk di belokan tajam. Richard meringis menahan perutnya yang melilit sakit luar biasa seperti dipelintir. Ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjerembab, dan jatuh pingsan.
Entah berapa lama Richard tidak sadarkan diri, sampai kemudian samar-samar dia melihat Bi Mumun dan Dinan tengah berdiri di samping tempatnya berbaring. “Oh Pak Richard sudah siuman,” terdengar suara perempuan dari arah lain. Richard hafal, itu suara Lia. “Pa… Pa… syukurlah sudah sadar,” terdengar suara yang lain, dan itu.., bukankah itu suara Ranie, istrinya. Richard memejamkan matanya lagi. Ia meringis, perutnya melilit sakit, dan seketika ada angin yang mendesak keluar dari lubang pelepasan menimbulkan bunyi nyaring: Dhuuuuuuttt!!!

Dulmulek

17 April 2012

Dulmulek

Cerita Pendek Iman Handiman

Kemas menjatuhkan punggungnya yang tipis ke bangku di pojok ruang sekretaris direksi. Ia tidak bisa menyembunyikan kegundahannya. Matanya luruh ke lantai, seperti tak ada tenaga lagi untuk bisa melihat dinding dan pintu. Kepalanya menunduk dengan dagu lengket ke leher, kentara berat untuk bisa tegak. Kesedihan dan putus asa memancar dari kedua bola matanya.
Amel, sekretaris Dulmulek, yang sedari tadi asyik memainkan BB sambil sesekali beralih ke komputer tablet untuk berbalas kontak di twiter, sempat melirik ketika Kemas keluar dari ruang bosnya. Tetapi dia kembali sibuk dengan gadget di tangannya dan tak peduli dengan Kemas yang tampak terhuyung berjalan ke pojok sebelum melempar badannya ke bangku. Amel seakan sudah terbiasa melihat karyawan keluar dari ruang Pak Dul dengan wajah lesu, muram, kesal, marah, atau putus asa.
Pak Dul adalah direktur di perusahaan udang ekspor ini. Ia pemimpin tertinggi sekaligus pemilik modal tunggal. Lelaki berperut tambun itu mengendalikan perusahaan beraset miliaran ini dengan tangan besi. Kemajuan pesat dicapainya hanya dalam beberapa tahun sejak PT Exim Udang Bongkok berdiri di Mesuji Ujung.
Pak Dul menikmati kemajuan perusahaan dengan hidup mewah: memiliki rumah di tujuh tempat, tiga di antaranya dihuni istri yang berbeda, selain satu rumah bersama istri tuanya; mobil belasan; dan tanah hektaran di mana-mana. Ia juga menyekolahkan empat dari enam anaknya ke Boston, Jerman, dan Malaysia.
Tetapi harta yang berlimpah itu dikuasainya secara tidak adil. Ia enggan berbagi kepada orang lain. Kemajuan perusahaan tidak dibuat untuk mengenyangkan sekaligus ratusan perut yang sama-sama berjuang menggerakkan roda korporasi. Tiap lembar keuntungan dari ekspor udang ke tujuh negara di Asia dan Eropa hanya mengalir ke pundi-pundinya sendiri. Cuma tiga puluh persen saja yang disisakan untuk ongkos operasional dan gaji. Pak Dul hidup di pucuk pohon paria.
Hampir seluruh karyawan PT Exim Udang Bongkok digaji rendah. Sebagian malah harus menerima upah di bawah standar minimum provinsi. Cuma dua orang yang sedikit beruntung mendapat perhatian Dulmulek, yaitu Amel sekretarisnya dan Sulis mandor lapangan. Pasalnya, Amel yang cantik tidak pernah menolak ajakannya bermalam di luar kota dan Sulis yang mencium skandal itu rela menjaga rahasia agar tidak bocor ke para istri bos. Maka itulah bos pun suka dan mau mengganjar mereka dengan gaji lumayan besar.
Kemas adalah satu dari ratusan karyawan yang tak beruntung. Ia hanya digaji enam ratus dua puluh lima ribu sebulan untuk pekerjaannya di bagian packing. Hari itu untuk ketiga kalinya dia menghadap Pak Dul. Ayah tiga anak ini mendadak perlu biaya untuk anaknya yang masuk rumah sakit. Ia memberanikan diri datang ke GM untuk mengajukan pinjaman dua juta rupiah dengan perjanjian akan dicicil sepuluh kali potong gaji.
Pertama datang, permohonannya langsung ditolak. Pak Dul malah mengomelinya sebagai karyawan yang boros. “Seharusnya kau tiap bulan menyisihkan gaji untuk disimpan biar kalau ada kebutuhan mendadak begini tidak menyusahkan perusahaan,” sembur Pak Dul.
Kemas serta merta mundur. Ia putuskan tidak akan minta bantuan kantor. Tetapi saat sore hari melihat anaknya yang sakit mengerang panjang karena obatnya belum ditebus, hatinya seperti didesak lagi untuk memohon ke Pak Dul. Waktu itu kantor sudah tutup, dia pun nekat ke rumah Pak Dul di Poligon. Lantas di rumah yang mirip istana itu Kemas menyembah sang bos dan memohon agar bisa mendapat pinjaman. Pak Dul seolah tersentuh, sekonyong-konyong berkata: “Iya besok kamu ke ruang saya lagi.”
Tetapi pagi besoknya ketika Kemas masuk ruang Pak Dul, belum lagi menutup pintu dia sudah disemprot. “Oii, mengapa kau ke sini lagi. Dasar bengak kau, mintak sana dengan nenek kau. Kantor ini bukan dinas sosial tau?” suara Pak Dul menjerit-jerit hingga terdengar ke empat ruangan lain di sekitarnya.
Kemas langsung mundur keluar. Pandangannya seketika gelap. Tapi dia berusaha untuk tetap awas. Lantas berjalan dengan melihat lantai agar tidak tersungkur. Semula mau terus beranjak pergi dari kantor dan tak kembali. Tiba-tiba tubuhnya lemas. Akhirnya dia duduk di pojok ruang sekretaris.
Lama Kemas tergolek tanpa tenaga, mirip kain yang habis dilipat. Ia terpukul oleh Pak Dul yang sedikit pun tidak menunjukkan empati atas kesulitan yang merundungnya. Alih-alih membantu, malah dia memakinya. Sesaat dia pun menyesali dirinya yang tak berdaya. Lantas merutuk habis sikap pelit dan tamak dari orang kaya raya seperti Pak Dul.

Orang pelit dan tamak seperti Pak Dul makin kaya makin pelit dan tamak. Sepengetahuan Kemas yang sudah lima tahun bekerja di PT Exim Udang Bongkok, setiap kali kekayaan bigbosnya itu bertambah setiap kali itu pula sifatnya untuk menggenggam erat kekayaannya bertambah pula. Dan sifatnya yang selalu berhitung, terutama mengkalkulasi apa yang dia keluarkan, makin menjadi. Tidak ada dalam rumus Pak Dul untuk berubah menjadi pemurah dan mulai memberi manakala kekayaannya bertambah.
Orang pelit dan tamak berbanding lurus dengan orang yang dermawan. Orang yang dermawan ketika kekayaannya bertambah justru akan makin dermawan. Kebiasaannya untuk memberi dan berbagi harta akan meningkat. Sewaktu ada rezeki datang dia akan lebih ingat dan peduli kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Tidak hanya memberi harta, dia juga akan makin dekat dengan orang yang tidak mampu. Ibarat pohon, makin dia tinggi dan rimbun, makin banyak orang yang merasa nyaman bersandar padanya. Ia pun makin memberikan keteduhan kepada lebih banyak orang di sekitarnya.
Sayangnya orang yang pemurah dan dermawan sepertinya tidak banyak. Mereka bahkan tergolong manusia langka karena makin hari makin sulit ditemukan. Sekarang ini bukan sesuatu yang mudah untuk memohon pertolongan kepada orang kaya. Sekarang ini berharap uluran tangan saat ditimpa kesulitan menjadi sesuatu yang sering terasa mustahil, tidak hanya di tengah kehidupan masyarakat kota namun juga di desa dan dusun yang masyarakatnya masih dikategorikan murni. Ini menjadi ironis bila mengingat di sisi lain yang namanya orang kaya semakin hari semakin bertambah, bahkan dengan tingkat kekayaan yang berlimpah dan sulit dihitung lagi.
Orang pelit dan tamak pun akan terus menambah dan bertambah kekayaannya. Mereka seolah para penimbun harta yang pantang menyerah dan penuh percaya diri. Padahal kepada mereka tidak pernah mengalir doa agar hartanya meningkat. Orang miskin dan teraniaya malah mengutuk mereka menjadi batu dan mati kelaparan. Karena orang yang pelit dan tamak, semakin kaya dan makmur akan semakin menjauh dari mereka. Bertambahnya orang kaya membuat tetesan ke bawah makin berkurang. Kebaikan yang semula masih bisa turun dari jari orang pelit akhirnya surut sama sekali saat orang pelit itu menjadi kaya raya. Jatah kebaikan bagi orang miskin makin berkurang. Orang miskin makin kehilangan harapan dari orang yang beruntung memegang harta. Orang kaya dan orang miskin menjadi dua kutub yang terpisah. Makin jauh dan menciptakan jurang yang dalam.

“Pak Kemas,” tiba-tiba terdengar suara mengagetkan Kemas. Pikirannya yang tengah merutuk langsung buyar. Ia tengadahkan kepala. Di depannya sudah berdiri Amel. Rupanya tanpa dia sadari sekretaris Pak Dul itu sudah dari tadi turun dari kursi dan mendekatinya.

“Iy…iya… Bu Amel…,” Kemas segera merespons dengan perasaan bersalah. Ia baru sadar kalau dia sudah lama duduk di ruang sekretaris tanpa ada alasan karena seharusnya dia sudah keluar setelah dihardik Pak Dul tadi.
“Pak Kemas dipanggil Pak Dul masuk lagi,” kata Amel singkat, lalu membalikkan badan dan kembali ke mejanya.
Kemas terpana, namun dia tak ingin bertanya ke Amel. Ia pikir Pak Dul memang menyuruhnya masuk. Kemas pun segera berdiri dan melangkah ke pintu ruang GM.
Pintu tidak ditutup. Rupanya memang sengaja dibuka untuk Kemas. Saat masuk, Pak Dul pun langsung menyambut. “Ayo Kemas duduk,” katanya mempersilakan Kemas duduk di kursi lipat di depan mejanya yang panjang dan lebar.
“Begini Mas, saya mau bantu kamu,” kata Pak Dul setelah Kemas duduk.
“Dua juta yang kamu butuhkan untuk anak kamu yang sakit itu ya. Cukup segitu?” Pak Dul bertanya dengan suara rendah, yang terdengar di kuping Kemas sebagai keramahan yang tidak biasanya.
Kemas mengangguk. “Iya Pak cukup,” katanya.
“Ya sudah, kamu ambil sekarang di kasir. Aku tambah jadi dua juta lima ratus ribu. Oke ya,” kata Pak Dul.
Kemas berdiri, “Terima kasih banyak, Pak, terima kasih,” katanya sambil meraih tangan Pak Dul dan menciumnya. Lantas bergegas keluar ruangan GM.
“Eh tunggu dulu,” Pak Dul menghentikan langkah Kemas yang sudah sampai pintu.
Kemas merandek menunggu omongan Pak Dul selanjutnya.
“Kamu tidak punya utang. Pinjaman itu langsung lunas. Lima bulan ke depan kamu tidak terima gaji dulu,” kata Pak Dul, kali ini terdengar oleh Kemas seperti geledek.

Dimuat di Berita Pagi, Minggu 8 April 2012

Tragedi Boncel dan Halimah

17 April 2012

Tragedi Boncel dan Halimah

Cerpen Anto Narasoma

SEJAK pabrik sandal tempat ia bekerja habis dilalap api dua bulan lalu, kehidupan ekonomi keluarga Boncel menjadi morat-marit. Kerja serabutan apapun untuk makan sehari-hari terpaksa harus ia lakukan. Yang penting tidak merampok dan tiga orang anaknya tidak mati kelaparan.
Namun ia juga berpikir, hidup tidak hanya sebatas makan. Sebagai seorang kepala keluarga, Boncel dituntut untuk memenuhi segala kebutuhan hidup bagi istri dan tiga anaknya. Maka itu ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tapi, meskipun ia sudah berusaha sebisanya, hingga kini ia belum memperoleh pekerjaan yang memadai.
Memikirkan nasibnya yang begitu buruk, Boncel tercenung di sudut ruangan kecil di rumah kontrakannya yang sempit. Airmatanya menitik ke pipi. Apalagi sejak pagi tadi istrinya membawa Indah ke rumah sakit. Kebetulan anak bungsunya yang berusia tiga tahun itu menderita demam tinggi. Sejak semalaman tubuhnya panas sekali. Sepanjang malam Boncel dan istrinya cemas bukan main. Ia khawatir Indah terserang demam berdarah. Ah, menunggu lewatnya malam, bagi Boncel dan istrinya terasa begitu panjang. Lama dan mencemaskan. Kegelisahan yang membelit perasaannya terasa sangat menyiksa. Ya Allah, selamatkan anakku..
Pagi-pagi sekali, Halimah –istri Boncel– sudah siap mengantarkan anaknya ke rumah sakit. Karena tak ada ongkos, Boncel terpaksa mengantarkan istrinya dengan becak yang ia pinjam dari tetangga sebelah rumah.
Kemarin, Boncel pernah mengutarakan hasratnya untuk menyewa becak tersebut. Rencana Boncel, ia akan membawanya sendiri. Pokoknya, dia tidak malu menyandang predikat sebagai tukang becak. Persetan dengan pandangan orang tentang statusnya sekarang.
‘’Mengapa harus malu, Mas. Justru uang yang dihasilkan dari menjadi penarik becak, itu merupakan duit halal. Yang dihasilkan dari keringat sendiri. Tanpa korupsi uang rakyat. Terserah apa kata orang mengenai aku. Yang penting anak-istriku tidak kelaparan,’’ tukas Bocel kepada Mas Gendon, si empunya becak, dua hari lalu.
Mendengar penuturan Boncel, perasaan Mas Gendon jadi terharu. Ia setuju Boncel membawa becaknya. Apalagi Gendon mempunyai dua becak. ‘’Pakailah becak ini. Carilah duit sebanyak yang dapat kau peroleh. Yang penting hati-hati. Soalnya, Dik Boncel baru kali ini menjadi pengemudi becak kan?’’.
‘’Iya, Mas,’’ Boncel menganggukkan kepalanya.
‘’Nah, silakan. Mas doakan agar kau berhasil mencari rejeki yang halal,’’ kata Gendon.
Baru hari kedua Boncel menjadi pengemudi becak, anak bungsunya sakit. Karena tak punya ongkos angkot, maka sejak pagi tadi ia harus mengantarkan Halimah ke dokter. ‘’Mudah-mudahan saja anak kita dapat ditolong dokter rumah sakit ini,’’ kata Boncel berbisik di telinga istrinya. Mata Halimah berkaca-kaca. Untuk menutupi biaya pengobatan anaknya, Boncel harus mencari uang. Ia harus menarik becak kemana saja. Yang penting dapat uang sebanyak-banyaknya. Namun sebelum meninggalkan Halimah, Boncel menyelipkan uang Rp 20 ribu ke balik kutang istrinya.
‘’Kau atasi dulu keadaan ini, Dik. Mas Boncel akan mencari biaya tambahan buat pengobatan Indah. Sebetulnya, aku sedih dan tak tega meninggalkan kau sendirian di rumah sakit. Tapi inilah jalan terbaik buat kita. Aku harus mendapatkan uang sebanyaknya untuk biaya pengobatan anak kita,’’ ucap Boncel kepada istrinya. Meski dengan berat hati, Halimah terpaksa menganggukkan kepalanya.

****

Sepeninggal Boncel, Halimah segera mendaftarkan nama anaknya ke loket pendaftaran. Setelah menunggu antrean sekitar tiga puluh menit, tibalah giliran Halimah.
‘’Waduh, suhu badan anak ibu ini begitu tinggi. Sudah berapa lama anak ini sakit?’’ tanya dokter dengan kening berkerut.
‘’Dua hari, dokter,’’ jawab Halimah.
‘’Tampaknya anak ini harus dirawat inap,’’ kata dokter itu sembari memeriksa detak jantung Indah dengan stateskop. Kemudian dokter itu meneliti kulit lengan dan sekujur badan anak Halimah. ‘’Wah, anak ini harus dirawat secepatnya’’.
‘’Lantas bagaimana caranya, dok?’’ tanya Halimah dengan wajah cemas. Wajar jika perasaan cemas itu muncul di dalam diri wanita ini. Sebab, selain tidak mempunyai biaya untuk rawat inap, tidak ada seorang pun yang dapat ia jadikan tempat bertukar pikiran. Ya Allah, bagaimana ini?
Selama berada dalam kegelisahan dan kepedihan yang menghimpit perasaannya, kondisi Indah semakin parah. Matanya mendelik hingga korneanya tidak terlihat sama sekali. Melihat itu Halimah menjerit minta pertolongan dokter yang memeriksanya. Tanpa mempedulikan rasa malu, wanita itu menangis sejadi-jadinya. ‘’Tolong obati anak saya dokter. Keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Tolonglah anak saya,’’ ujar Halimah dengan suara bergetar. Ritme tangisnya semakin meninggi.
‘’Ibu segeralah ke bagian administrasi. Ruangannya ada di sebelah kiri depan dari sini,’’ ujar dokter tersebut. Tiba di ruangan itu, Halimah dipaksa untuk membayar uang muka sebagai jaminan rawat inap. Wanita ini pucat seketika, karena di sakunya hanya ada uang senilai Rp 40 ribu. Jumlah itu pun setelah ditambah dari pemberian Boncel yang diselipkan di balik kutangnya tadi.
‘’Berapa uang jaminan itu, Bu?’’ tanya Halimah ke petugas administrasi rumah sakit itu. Ia menanti jawaban dari petugas wanita itu dengan harap-harap cemas
‘’Ibu harus memberikan uang jaminan sebesar Rp 300 ribu,’’ jawab petugas administrasi itu dengan wajah ketus tanpa senyum sedikit pun.
‘’Saya hanya ada uang sebesar Rp 40 ribu,’’ kata Halimah.
‘’Wah, gila. Uang sebesar itu mana bisa untuk menjamin biaya pengobatan anak Ibu. Ini rumah sakit profesional, Bu. Kami tidak dapat menampung si sakit. Lebih baik ibu cari rumah sakit lain saja,’’ tukas wanita berseragam baju terusan putih-putih itu, meninggalkan Halimah.
Orang-orang di sekitar tempat itu menaruh simpati melihat nasib Halimah. ‘’Daripada kondisi anak ini semakin parah, sebaiknya Mbak usahakan berobat ke rumah sakit lain saja. Kasihan anak ini, Mbak’’ ujar seorang wanita seusia Halimah.
Sementara suasana di sekitar ruang administrasi rumah sakit itu semakin riuh, tubuh Indah pun mengejang. Panasnya semakin meninggi. Matanya terbeliak. Yang terlihat hanya bagian putihnya saja. Sementara kornea matanya menyelinap ke rongga atas. Melihat kondisi anaknya, Halimah menjerit meminta pertolongan.
‘’Oh, alangkah kejamnya rumah sakit ini. Padahal saya sudah mendaftarkan diri dengan surat Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Ternyata surat ini tidak ada gunanya sama sekali,’’ begitu Halimah memangis. Suaranya membuat orang-orang yang berobat di sana berpaling ke arahnya.
Getar suara tangisan wanita ini kian menyayat hati. Namun demikian, bagi para petugas rumah sakit tersebut, nasib buruk Halimah adalah perkara sepele. Mereka tidak peduli. Jika ibu muda ini punya duit untuk uang muka pertanggungjawaban rawat inap bagi anaknya, Indah boleh masuk ke sal perawatan. Kalau tidak, silakan angkat kaki dari lantai rumah sakit ini, titik.
Merasa tidak ada respons dan dilecehkan oleh petugas rumah sakit tersebut, Halimah pergi dari ruang administrasi. Ada perasaan marah, jengkel, kecewa, dan putus asa, berkecamuk jadi satu. Ketika menuruni anak tangga dari lantai dua, kondisi Indah tak tertolong lagi. Dalam penderitaannya didera temperatur tinggi, jiwa anak itu pergi menghadap Sang Ilahi.
Halimah menjerit dan secara tiba-tiba dunia menjadi gelap. Ia tak sadarkan diri dan jatuh dari ketinggian tangga paling atas. Tak urung, tubuh wanita muda yang masih mendekap jasad anaknya di dalam gendongan ini tergelimpang bertubi-tubi dan menghempas rentetan anak tangga dari lantai dua. Tubuh Halimah dan jasad Indah tergeletak tanpa daya di lantai rumah sakit itu. Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un…

****

Sementara itu di tempat terpisah, Boncel yang sudah berkali-kali mendapat tumpangan sejak menarik becak pagi tadi, telah mengantongi uang sebesar Rp 50 ribu. Uang itu terdiri dari pecahan seribu rupiah. Uang itu ia susun rapi dan diselipkan ke kaos kakinya. Ah, lumayan.
Selagi asyik menghitung-hitung pendapatannya sembari melepaskan lelah, sepasang suami-istri yang bertubuh bongsor minta diantar ke pasar.
‘’Berapa ke pasar, Mang?’’ tanya suami-istri tersebut hampir berbarengan.
‘’Terserah bapak dan ibu saja. Lokasi yang kita tuju dari sini, cukup jauh, Pak. Pikirkan saja nasib saya,’’ tukas Boncel dengan wajah terlihat lelah.
Karena Boncel dinilai suami-istri itu tidak banyak pintaan, dua penumpamng itu pun langsung masuk ke becak secara berhimpitan. Lantaran tubuh keduanya begitu gemuk, terpaksa pantat si suami duduk agak menjorok ke depan. Sedangkan Boncel yang bertubuh kurus hitam itu terengah-engah mengayuh pedal becak. Andaikan pencernaannya sedang bermasalah, pastilah di sela selangkangannya akan becek.
Uh, apalagi matahari mulai tinggi. Cahayanya begitu panas menyengat kulit lelaki bertubuh kecil ini. Baru berjalan seratus meter dari tempat semula, keringat dingin sudah mengucur ke sekujur tubuh. Ya Allah, alangkah pahitnya hidup ini.
Menarik beban yang begini berat, rasanya Boncel mau mati saja. Sebab, ia belum terbiasa mengemudikan becak dengan dua penumpang yang berbobot sebesar karung beras ukuran jumbo. Meskipun demikian, Boncel memaksakan dirinya untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Padahal, tenaganya sudah terkuras sejak tadi. Menarik dua tubuh berbobot luar biasa itu, Boncel sudah kehilangan tenaga. Wuih, bagaimana ini?
Menghadapi keadaan yang tak menguntungkan itu ia segera turun dari sadel becak. Dengan keringat dingin yang mengucur dari segenap celah di tubuhnya, ia mendorong becaknya. Cahaya matahari yang menyengat tajam itu makin mempercepat anjloknya stamina Boncel. Ya Allah, kuatkan aku..uh. Wajahnya terlihat porak-poranda menahan penderitaan.
Sedangkan rentetan mobil yang ada di belakang Boncel sudah membunyikan klakson, persis parade bunyi-bunyian yang menjengkelkan. Sementara di sisi lain, orang-orang yang ada di dalam mobil melontarkan caci maki yang menyakitkan hati. Namun begitu, Boncel tidak peduli. Sebab, ia sudah merasa tak memiliki cukup tenaga untuk mendorong becak secepatnya ke tepi jalan.
Pada kelokan dekat pasar yang dituju, terdapat sebuah jembatan dengan tanjakan cukup tinggi. Masya Allah, mampukah Boncel melewati itu dengan beban yang begitu berat? Melihat tanjakan yang rasanya tak mungkin bisa dijajaki, roman muka Boncel pucat seketika. Meskipun demikian ia memaksakan diri untuk tidak mengeluh menghadapi tantangan yang berbahaya ini. Apalagi dua penumpang yang berbobot hampir dua kwintal itu tidak peduli dengan kondisi Boncel. Terbayang dengan kondisi anaknya yang membutuhkan biaya pengobatan, Boncel menepiskan keterbatasan tenaganya. Mau tak mau, dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong becak tersebut ke medan tanjakan.
Tepat di ofret jembatan, kakinya terpeleset kulit pisang. Tubuh Boncel terbanting ke belakang. Dengan diboboti dua tubuh tambun, roda becak itu melindas dada Boncel. Lelaki muda bertubuh kurus hitam ini terpekik. Dari mulut Boncel yang naas keluar darah segar. Ia pingsan seketika. Sementara itu dua penumpangnya terjengkang dari becak dan jatuh ke selokan berlumpur hitam, dekat trailer sampah pasar yang basah. Mendengar hiruk-pikuk kecelakaan, orang-orang di sekitar itu menyerbu ke tempat kejadian. (*)

28 Maret 2010


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.